Showing posts with label Karya Tulis Ilmiah. Show all posts
Showing posts with label Karya Tulis Ilmiah. Show all posts

Friday, July 5, 2019

Mengenal ISBN

Pengertian ISBN :
ISBN (International Standard Book Number) adalah kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik. Informasi tentang judul, penerbit, dan kelompok penerbit tercakup dalam ISBN. ISBN terdiri dari deretan angka 13 digit, sebagai pemberi identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit. Oleh karena itu satu nomor ISBN untuk satu buku akan berbeda dengan nomor ISBN untuk buku yang lain.
ISBN diberikan oleh Badan Internasional ISBN yan berkedudukan di London. Di Indonesia, Perpustakaan Nasional RI merupakan Badan Nasional ISBN yang berhak memberikan ISBN kepada penerbit yang berada di wilayah Indonesia. Perpustakaan Naasional RI mempunyai fungsi memberikan informasi, bimbingan dan penerapan pencantuman ISBN serta KDT (Katalog Dalam Terbitan). KDT merupakan deskripsi bibliografis yang dihasilkan dari pengolahan data yang diberikan penerbit untuk dicantumkan di halaman balik judul sebagai kelengkapan penerbit.

Fungsi ISBN
1.    Memberikan identitas terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit
2.    Membantu memperlancar arus distribusi buku karena dapat mencegah terjadinya kekeliruan dalam pemesanan buku
3.    Sarana promosi bagi penerbit karena informasi pencantuman ISBN disebarkan oleh Badan Nasional ISBN Indonesia di Jakarta, maupun Badan Internasional yang berkedudukan di London

Struktur ISBN
Nomor ISBN terdiri dari 13 digit dan dibubuhi huruf ISBN didepannya. Nomor tersebut terdiri atas 5 (lima) bagian. Masing-masing bagian dicetak dengan dipisahkan dengan tanda hyphen (-). Kelompok pembagian nomor ISBN ditentukan dengan struktur sebagai berikut:

Contoh : ISBN 978-602-8519-93-9
 Maksudnya adalah :

  •  Angka pengenal produk terbitan buku dari EAN (Prefix identifier) = 978
  • Kode kelompok (group identifier) = 602 (Default)
  • Kode penerbit (publisher prefix) = 8519
  • Kode Judul (title identifier) = 93
  • Angka pemeriksa (check digit) = 9


Terbitan yang dapat diberikan ISBN
1.        Buku tercetak (monografi) dan pamphlet
2.        Terbitan Braille
3.        Buku peta
4.        Film, video, dan transparansi yang bersifat edukatif
5.        Audiobooks pada kaset, CD, atau DVD
6.        Terbitan elektronik (misalnya machine-readable tapes, disket, CD-ROM dan publikasi di Internet)
7.        Salinan digital dari cetakan monograf
8.        Terbitan microform
9.        Software edukatif
10.    Mixed-media publications yang mengandung teks

Terbitan yang tidak dapat diberikan ISBN
1.        Terbitan yang terbit secara tetap (majalah, bulletin, dsb.)
2.        Iklan
3.        Printed music
4.        Dokumen pribadi (seperti biodata atau profil personal elektronik)
5.        Kartu ucapan
6.        Rekaman musik
7.        Software selain untuk edukasi termasuk game
8.        Buletin elektronik
9.        Surat elektronik
10.    Permainan

Pencantuman ISBN
ISBN ditulis dengan huruf cetak yang jelas dan mudah dibaca. Singkatan ISBN ditulis dengan huruf besar mendahului penulisan angka pengenal kelompok, pengenal penerbit, pengenal judul dan angka pemeriksa. Penulisan antara setiap bagian pengenal dibatasi oleh tanda penghubung, seperti contoh berikut:

ISBN 978-602-8519-93-9

Untuk terbitan cetak, ISBN dicantumkan pada:
  1. Bagian bawah pada sampul belakang (back cover)
  2. Verso (dibalik halaman judul) (halaman copyright)
  3. Punggung buku (spine) untuk buku tebal , bila keadaan memungkinkan

Sumber : Perpustakaan Nasional (https://isbn.perpusnas.go.id/Home/InfoIsbn)

Demikian informasi singkat tentang ISBN, semoga bermanfaat.

Thursday, July 4, 2019

Cara Penulisan Daftar Pustaka

Salah satu syarat dalam penulisan sebuah karya tulis ilmiah adalah mencantumkan sumber rujukan yang jelas pada tulisan kita. Semua sumber ruujukan harus ditulis dalam kepustakaan atau Daftar Pustaka. Secara umum tata cara penulisan Daftar Pustaka adalah, sbb :
1.   Daftar Pustaka disusun berdasarkan alfabetis tanpa nomor.
2.   Penulisan daftar pustaka dengan spasi single ( 1 Spasi )
3.   Pencantuman sumber dengan nama penulis yang sama dan judul tulisan berbeda, nama penulis ditulis lengkap.
4.   Jika terdapat sumber berbeda dari satu penulis pada tahun yang sama maka di belakang tahun terbit diberi huruf a, b, c, dan seterusnya.

Petunjuk penulisan untuk masing-masing sumber adalah sebagai berikut :

Terbitan Berkala/Majalah Ilmiah dengan Volume dan Nomor
Nama penulis. Tahun terbit. Judul tulisan. Nama Terbitan, Volume (Nomor) : Halaman.
Contoh :

Yondri, Lutfi. 2014. Struktur Punden Berundak Gunung Padang. Purbawidya, 3 (2): 75-88.

Terbitan Berseri :
Nama penulis. Tahun terbit. Judul tulisan. Nama Terbitan, Nomor Seri: Halaman. Kota terbit: Penerbit.
Contoh :

Lukmana, Iwa. 2005. Sundanese Speech Levels. Seri Sundalana, 04 Islam dalam
Kesenian Sunda: 115-148. Bandung: Kiblat.

Mundardjito. 1990. Metode Penelitian Permukiman Arkeologis. Seri Penerbitan Ilmiah, 11 edisi khusus Monumen Karya Persembahan untuk Prof. Dr. R. Sukmono : 19-31. Depok : Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Buku (satu penulis) :
Nama penulis. Tahun terbit. Judul Buku. Kota terbit: Penerbit.
Contoh :

Adimihardja, Kusnaka. 1992. Kasepuhan Yang Tumbuh di Atas Yang Luruh. Bandung:Tarsito.

Buku (dua sampai tiga penulis) :
Nama penulis 1, 2, 3. Tahun terbit. Judul Buku. Kota terbit: Penerbit.

Penulis (2 Orang) :
Hers, Norman dan Garrison, Ervan G. 1998. Geological Methods for Archaeology. Oxford: Oxford University Press.

Penulis (3 Orang)
Danasasmita, Saleh., Iskandar, Yosef., dan Atmadibrata, Enoch. 1983/1984. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat Jilid I. Bandung: Proyek Penerbitan Buku Sejarah Jawa Barat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Buku (empat penulis atau lebih)
Nama penulis 1., dkk. Tahun terbit. Judul Buku. Kota terbit: Penerbit.
Maryanto, Ibnu., dkk. 2007. Nama Daerah Mamalia di Indonesia. Jakarta: LIPI Press.

Buku yang Ditulis Atas Nama Lembaga
Nama lembaga. Tahun terbit. Judul Buku. Kota terbit: Penerbit.
Contoh :

UNESCO-IBE. 2000. Globalization and Living Together: The Chalanges for Educational Content in Asia. New Delhi: UNESCO – Central Board of Secondary Education, India.

Bunga Rampai
Nama penulis. Tahun terbit. Judul tulisan. Dalam Nama editor (Ed.). Judul Bunga Rampai: Halaman. Kota terbit: Penerbit.
Contoh :

Rouse, Irving. 1971. The Classification of Artifact in Archaeology. Dalam James Deets (Ed.). Mans Imprint from the Past: 108-125. Boston: Little Brown and Company.

Prosiding
Nama penulis. Tahun terbit. Judul tulisan. Judul prosiding: Halaman. Kota penyelenggaraan seminar, Tanggal seminar: Penyelenggara.
Contoh :

Wibisono, Sonny C. 2013. Menentukan Manfaat Arkeologis Melalui Pemahaman Nilai Penting Hasil penelitian. Prosiding Seminar Nasional Dalam Rangka 100 Tahun Purbakala. Potensi Arkeologi dan Pemanfaatannya untuk Masyarakat Luas: 1 – 5. Bandung, 26-28 Agustus 2013: Balai Arkeologi Bandung.

Skripsi, Tesis, Disertasi
Nama penulis. Tahun pengesahan. Judul Skripsi, Tesis, Disertasi. Skripsi/Tesis/Disertasi, Fakultas/Program Studi. Kota kedudukan: Perguruan Tinggi.
Contoh :

Hermawan, Iwan. 2008. Kearifan Lokal Sunda Dalam Pendidikan (Kajian Terhadap Aktualisasi Nilai-nilai Tradisi Sunda Dalam Pendidikan IPS di Sekolah Pasundan dan Yayasan Atikan Sunda). Disertasi, Sekolah Pascasarjana. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Laporan Penelitian
Nama penulis. Tahun pelaporan. Judul Penelitian. Laporan Penelitian. Kota kedudukan:Instansi.

Sudarti. 2009. Masa Klasik Tarumanegara di Wilayah Pandeglang Provinsi Banten. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Media Massa Cetak (Tanpa Penulis)
Judul tulisan. Tahun terbit. Media Massa. Tanggal terbit: Halaman.

Kemenyan Barus Untuk Sang Raja. 2013. Kompas. 29 Desember: 1

Media Massa Cetak (Terdapat nama Penulis)
Nama penulis. Tahun terbit. Judul tulisan. Media Massa. Tanggal terbit: Halaman.

Ekadjati, Edi S. 2004. Pendidikan di Tatar Sunda (1). Pikiran Rakyat. 20 November: 16.


Tulisan Bersumber dari Internet (Tanpa Nama Penulis)
Judul tulisan. Tahun terbit. (Alamat Web Lengkap, diakses: tanggal akses).

Sisa-sisa Fosil Tyrannosaurus Mini Ditemukan di Arktik. 2014. (http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/03/sisa-sisa-fosil-t-rex-miniditemukan-di-arktik, diakses 19 Maret 2014).

Tulisan Bersumber dari Internet (Terdapat Nama Penulis)
Nama penulis. Tahun terbit (diunggah). Judul tulisan. (Alamat Web Lengkap, diakses:tanggal akses).

Hunter, K. (1988). Herritage Education in the Social Studies. (http://www.ed.gov/databases/ERICDigest/Index/ED30036, diakses 9 Januari 2002).

Makalah dalam Pertemuan Ilmiah, Kongres, Simposium, atau Seminar yang belum Diterbitkan:
Nama penulis. Tahun penyelenggaraan. Judul tulisan. Makalah dalam Nama Kegiatan. Kota penyelenggaraan, Tanggal penyelenggaraan: Penyelenggara.

Rahardjo, Supratikno. 2010. Konvensi Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air:Mengapa Tidak Kunjung Diratifikasi. Makalah dalam Lokakarya Pembahasan UNESCO Convention on the Protection of the Underwater Cultural Heritage. Jakarta, 2 Juni: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan Departemen Kelautan dan Perikanan.

Pustaka Berupa Dokumen Paten:
Nama pemilik paten. Tahun paten. Nama Paten. Paten diikuti Negara tempat paten tersebut diperoleh dan Nomor Paten.

Sukawati, Tjokorda Raka. 1995. Landasan Putar Bebas Hambatan. Paten Indonesia No.ID/0000114.

Undang-undang dan Peraturan Lainnya
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Demikian informasi singkat bagaimana cara penulisan daftar pustaka secara umum. Apabila anda ingin mengirimkan Karya Tulis Ilmiah ke Jurnal, maka ada baiknya anda membaca pedoman penulisan yang diterbitkan oleh jurnal tersebut.
Selamat berkaya, semoga sukses.

Saturday, March 17, 2018

Mengenal Siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas

Secara umum, penelitian tindakan kelas (PTK) terdiri atas beberapa siklus atau pengulangan dari siklus. Setiap setiap siklus terdiri dari empat langkah, yaitu: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan, (3) pengamatan/observasi; dan (4) refleksi.
Keempat tahapan tersebut merupakan unsur yang membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun. Sehingga bentuk penelitian tindakan kelas tidak pernah merupakan kegiatan tunggal, tetapi berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke bentuk asal, yaitu siklus.
Alur model penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut. :

Masing-masing tahapan siklus penelitian tindakan kelas dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Tahap Perencanaan (Planning)
Pada tahap ini, peneliti menjelaskan tentang apa (what), mengapa (why), dimana (where), kapan (when), dan bagaimana (how) penelitian dilakukan. Penelitian tindakan kelas sebaiknya dilakukan secara kolaboratif, sehingga menghindarkan unsur subjektivitas.
Di dalam penelitian tindakan kelas, ada kegiatan pengamatan terhadap diri sendiri, yaitu pada saat peneliti menerapkan pendekatan, model, atau metode pembelajaran sebagai upaya menyelesaikan masalah pada saat praktik penelitian. Dibutuhkan rekan sejawat untuk menilai kegiatan tersebut.
Di dalam tahap perencanaan, peneliti juga perlu menjelaskan persiapan-persiapan pelaksanaan penelitian, seperti rencana pelaksanaan pembelajaran dan instrumen pengamatan (observasi).

2.  Tahap Pelaksanaan (Acting)
Pada tahap pelaksanaan, dilakukan kegiatan implementasi atau penerapan perencanaan tindakan. Di dalam kegiatan implementasi ini, maka guru (peneliti) harus mentaati perencanaan yang telah disusun.
Hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah pembelajaran harus berjalan seperti biasanya, tidak boleh kaku dan terkesan dibuat-buat. Kolaborator disarankan untuk melakukan pengamatan secara objektif sesuai kondisi pembelajaran yang dilakukan peneliti.
Kegiatan ini penting karena tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran.

3.  Tahap Pengamatan (Observing)
Pada tahap pengamatan terdapat dua kegiatan yang akan diamati, yaitu kegiatan belajar peserta didk dan kegiatan pembelajaran. Pengamatan terhadap proses belajar peserta didik dapat dilakukan sendiri oleh guru pelaksana (peneliti) sambil melaksanakan pembelajaran,
Sedangkan pengamatan terhadap proses pembelajaran, guru pelaksana (peneliti) dapat meminta bantuan kepada teman sejawat yang bertindak sebagai kolaborator untuk melakukan pengamatan. Kolaborator melakukan pengamatan pembelajaran berdasarkan instrumen yang telah disusun oleh peneliti.
Hasil pengamatan dari kolaborator nantinya akan bermanfaat atau akan digunakan peneliti sebagai bahan refleksi untuk perbaikan pembelajaran berikutnya.

4.  Tahap Refleksi (Reflecting)
Kegiatan refleksi dilaksanakan ketika kolaborator sudah selesai melakukan pengamatan terhadap peneliti dalam melaksanakan pembelajaran. Kegiatan ini dapat berupa diskusi hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator dengan guru pelaksana (peneliti).
Tahap ini merupakan inti dari penelitian tindakan kelas, yaitu ketika kolaborator mengungkapkan hal-hal yang dirasakan sudah berjalan baik dan bagian yang belum berjalan dengan baik pada saat peneliti mengelola proses pembelajaran.
Hasil refleksi dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merancang siklus berikutnya. Sehingga pada intinya, refleksi merupakan kegiatan evaluasi, analisis, pemaknaan, penjelasan, penyimpulan, dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklua berikutnya.

Untuk lebih memberikan pemahaman Bapak dan Ibu Guru tentang PTK, saya sediakan Buku PTK dalam Format Pdf, dengan Judul : Penelitian Tindakan Kelas oleh Dra. Sukayati, M.Pd. diterbitkan oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika Tahun 2008. 

Silahkan klik tautan dibawah ini :


Sebagai bahan pengayaan, silahkan simak tayangan berikut ini :


Saturday, March 10, 2018

Sistematika Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Bapak dan Ibu Guru, pada tulisn sebelumnya telah dibahas tentang sistematika Proposal Penelitian Tindakan Kelas. Setelah Bapak dan Ibu melaksanakan PTK, agar hasilnya dapat diketahui oleh pihak-pihak yang membutuhkan dan sebagai dokumentasi, Bapak dan Ibu perlu menuliskan hasil PTK kedalam laporan PTK.
Pada tulisan ini, saya berikan contoh sitematika Laporan PTK yang bisa Bapak dan Ibu pergunakan dalam penulisan Laporan PTK.
Secara umum, sistematika Laporan PTK, adalah sbb :

A. BAGIAN PEMBUKAAN
     1. Halaman judul
     2. Halaman pengesahan
     3. Abstrak (bila diperlukan)
     4. Kata pengantar
     5. Daftar Isi
     6. Daftar Lampiran

B. BAGIAN ISI
     BAB I PENDAHULUAN
     1. Latar belakang masalah
     2. Rumusan Masalah
     3. Tujuan Penelitian
     4. Manfaat Penelitian

     BAB II KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA
     BAB III METODE PENELITIAN
     1. Setting (lokasi, waktu, mapel, sekolah)
     2. Siklus penelitian
         a. Rencana tindakan
         b. Pelaksanaan tindakan
         c. Pengamatan/Observasi
         d. Refleksi/menganalisis dan sintesis

      BAB IV HASIL PENELITIAN
      1. Diskripsi setting penelitian
      2. Hasil penelitian
      3. Pembahasan

      BAB V SIMPULAN DAN SARAN
      1. Simpulan.
      2. Saran

      PENUTUP

Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam penerapan PTK antara lain adalah:
  • Memiliki kemauan untuk memperbaiki kinerja sendiri.
  • Memiliki sikap keterbukaan, kesediaan menerima kritk terhadap kelemahan penampilan.
  • Memandang kolaborator bukan sebagai hakim, polisi atau pengawas, tetapi sebagai pendamping guru(team –teaching).

Dengan demikian penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan yang diperuntukkan bagi guru dengan harapan :
  • Guru terbiasa melakukan perbaikan kerja.
  • Guru memiliki konsesi menjadi peneliti.
  • Guru bebas mengembangkan sikap inovatif secara kreatif.
  • Guru terbiasa membuat alat bantu pembelajaran.

Thursday, March 8, 2018

Panduan Penyusunan BAB I Pendahuluan Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas, melalui beberapa tahapan kegiatan berbentuk siklus.
Langkah penyusunan laporan penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut.
  1. Menentukan judul penelitian
  2. Menyusun latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian.
  3. Menentukan teori pendukung, kerangka berpikir, hipotesis tindakan.
  4. Menentukan metode penelitian.
  5. Menyusun instrumen penelitian.
  6. Membahas hasil penelitian tindakan.
  7. Menyimpulkan dan memberikan saran hasil penelitian.
Berikut ini saya bagikan Panduan Penyusunan Bab Pendahuluan Laporan Penelitian Tindakan Kelas untuk membantu Anda dalam membuat laporan PTK.
Bab Pendahuluan merupakan Bab awal yang harus dibuat dalam penyusunan sebuah laporan penelitian, termasuk penelitian tindakan kelas. Bab Pendahuluan (Bab I) penelitian tindakan kelas terdiri dari komponen berikut: (1) Latar belakang masalah; (2) Perumusan masalah; (3) Tujuan Penelitian; dan (4) Manfaat Penelitian.
Penjelasan masing-masing komponen Bab Pendahuluan tersebut sebagai berikut.

1.  Latar Belakang Masalah
Penyusunan latar belakang masalah dapat dimulai dari permasalahan yang sifatnya umum atau idealisme yang seharusnya dilakukan dalam pembelajaran menuju ke permasalahan yang lebih spesifik.
Di dalam pembuatan latar belakang masalah, maka hal-hal yang perlu ditampilkan adalah sebagai berikut.
  • idealisme peserta didik dalam belajar (misalnya belajar IPA) dan bagiaman seharusnya guru melaksanakan pembelajaran tersebut.
Contoh kalimat :
Pembelajaran IPA merupakan serangkaian proses yang kompleks dan saling berhubungan antara materi satu dengan lainnya. Konsep awal yang diterima peserta didik menjadi syarat untuk penguasaan konsep berikutnya. Pengetahuan awal peserta didik pada setiap pengalaman belajarnya akan berpengaruh terhadap bagaimana mereka akan belajar dan apa yang akan dipelajari selanjutnya … (dan seterusnya)
  • Deskripsi permasalahan nyata yang terjadi atau dijumpai saat pembelajaran di kelas.
Contoh kalimat :
Klasifikasi makhluk hidup adalah salah satu materi pembelajaran IPA yang memiliki kepadatan dan tingkat kesukaran cukup tinggi. Banyaknya cakupan konsep yang harus dikuasai peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Pringapus pada materi tersebut menimbulkan masalah bagi guru dalam menyampaikannya.
Hambatan teknis yang terjadi dalam pembelajaran materi klasifikasi makhluk hidup adalah: (1) ketidaktepatan peserta didik mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri yang dimiliki; (2) ketidakmampuan peserta didik menyebutkan ciri-ciri makhluk hidup tertentu; dan (3) tingkat kepasifan peserta didik dalam pembelajaran yang tinggi.
Dampak negatif dari semua kejadian tersebut adalah masih rendahnya hasil belajar peserta didik terhadap konsep yang diajarkan… (dan seterusnya)
  • Deskripsi solusi permasalahan yang dijumpai tersebut.
Contoh kalimat :
Permainan kartu klasifikasi dan perancangan peta konsep (mind map construction) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran IPA, khususnya pada materi klasifikasi makhluk hidup.
Permainan kartu klasifikasi adalah suatu strategi pembelajaran yang diciptakan peneliti dengan mengadaptasi permainan kartu klasifikasi. Perbedaannya adalah dalam permainan kartu klasifikasi, nilai kartu ditentukan dengan bulatan, sedangkan pada permainan kartu ini, nilai kartu ditentukan oleh rangkaian gambar dan ciri makluk hidup yang harus ditebak peserta didik. 
Produk dari permainan telah yang dilakukan adalah rancangan peta konsep (mind map construction) yang dibuat sendiri oleh peserta didik sesuai kreatifitas dan daya nalarnya. Diharapkan dengan terbiasa menerapkan permainan menggunakan media kartu klasifikasi ini peserta didik tidak merasa jenuh, karena mereka dapat melakukan pembelajaran sambil bermain.
Teknik ini juga memudahkan peserta didik untuk belajar dan berlatih menyusun materi pembelajaran dalam bentuk peta konsep… (dan seterusnya)

2.  Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan kalimat pertanyaan yang terdiri dari: (1) pertanyaan bagaimana menerapkan solusi dalam pembelajaran yang dapat menyelesaikan masalah; dan (2) pertanyaan apakah dapat diselesaikan masalah tersebut dengan solusi terpilih.
Contoh kalimat :
  • Bagaimanakah penerapan permainan kartu klasifikasi dan perancangan peta konsep (mind map construction) dalam meningkatkan hasil belajar IPA materi klasifikasi makhluk hidup pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Jiput Kabupaten Pandeglang Semester 2 tahun pelajaran 2016/2017?
  • Apakah penerapan permainan kartu klasifikasi dan perancangan peta konsep (mind map construction) dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi klasifikasi makhluk hidup pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Jiput Kabupaten Pandeglang Semester 2 tahun pelajaran 2016/2017?
3.  Tujuan Penelitian
Tujuan utama dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas adalah peningkatan mutu pembelajaran di kelas yang akan berujung pada peningkatan mutu pendidikan. Sehingga tujuan penelitian harus sesuai dengan rumusan masalah yang ada.
Contoh kalimat :
  • Untuk mengetahui bagaimana penerapan permainan kartu klasifikasi dan perancangan peta konsep (mind map construction) dalam meningkatkan hasil belajar IPA materi klasifikasi makhluk hidup pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Jiput Kabupaten Pandeglang Semester 2 tahun pelajaran 2016/2017.
  • Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA materi klasifikasi makluk hidup melalui penerapan permainan kartu klasifikasi dan perancangan peta konsep (mind map construction) pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Jiput Kabupaten Pandeglang Semester 2 tahun pelajaran 2016/2017?
4.  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas tidak bersifat umum (tidak dapat digeneralisasi), sehingga manfaat penelitiannya hanya ada manfaat praktis, dan tidak ada manfaat teoritis.
Diharapkan penelitian bermanfaat secara praktis bagi peserta didik sebagai subjek penelitian dan bagi guru sebagai acuan melakukan penelitian ilmiah,dan bagi sekolah sebagai sumbangan perbaikan kualitas pembelajaran.
Berikut contoh kalimatnya:
Penelitian ini secara praktis diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak berikut.
  • Bagi guru; hasil penelitian ini dapat djadikan sebagai informasi tentang permainan alat peraga kartu klasifikasi dan rancangan peta konsep untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi klasfikasi makhluk hidup. Penelitian ini juga dapat menjadi acuan bagi guru dalam melakukan penelitian selanjutnya. 
  • Bagi peserta didik; penelitian ini merupakan umpan balik untuk memecahkan permasalahan yang timbul dalam memahami materi klasifikasi makhluk hidup, sehingga kemampuan dan minat peserta didik dalam mempelajari materi tersebut semakin bertambah.
  • Bagi sekolah; hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang positif dalam rangka perbaikan kualits pembelajaran IPA, khususnya pada sekolah tempat penelitian, yaitu SMP Negeri 1 Jiput Kabupaten Pandeglang dan sekolah lain pada umumnya.
Demikian Panduan Penyusunan Bab Pendahuluan Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Semoga bermanfaat.



Wednesday, March 7, 2018

Panduan Tahapan Perumusan Judul Penelitian Tindakan Kelas PTK

Penelitian tindakan kelas (PTK) dapat diartikan sebagai penelitian untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas, melalui beberapa tahapan kegiatan berbentuk siklus.
Penelitian ini dilakukan sebagai respon terhadap permasalahan belajar yang terjadi di kelas. Guru perlu memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut dalam bentuk tindakan dengan mengubah pendekatan, metode, atau model pembelajaran, sehingga permasalahan belajar tersebut dapat teratasi.
Indikator keberhasilan penelitian tindakan ini dapat dilihat dari ketercapaian ketuntasan belajar secara klasikal maupun meningkatkan keterampilan dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran.
Guru perlu mengetahui langkah-langkah dalam penyusunan laporan penelitian tindakan kelas. sebagai tindak lanjut dari penelitian tindakan yang telah dilakukan.
Terdapat beberapa langkah penyusunan laporan penelitian tindakan kelas, antara lain sebagai berikut.
  1. Menentukan judul penelitian
  2. Menyusun latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian.
  3. Menentukan teori pendukung, kerangka berpikir, hipotesis tindakan.
  4. Menentukan metode penelitian.
  5. Menyusun instrumen penelitian.
  6. Membahas hasil penelitian tindakan.
  7. Menyimpulkan dan memberikan saran hasil penelitian.
Panduan Tahapan Perumusan Judul Penelitian Tindakan Kelas PTK
Di dalam menentukan judul penelian harus bertolak dari permasalahan yang terjadi di kelas, yang terdiri dari permasalahan guru maupun permasalahan peserta didik. Permasalahan tersebut terjadi karena ada kesenjangan antara idealisme dari harapan yang diinginkan dengan kenyataan yang ada dan terjadi di kelas.
Ketentuan dalam menentukan masalah sebagai berikut: (1) introspeksi diri bahwan ada masalah dalam pembelajaran di kelas; (2) menuliskan masalah; (3) mengidentifikasi masalah yang esensial; (4) menentukan alternatif pemecahan masalah; (5) merumuskan masalah; dan (6) menuliskan judul penelitian tindakan.

a.  Menuliskan permasalahan belajar dan pembelajaran di kelas.
Berikut ini contoh permasalahan belajar IPA yang dapat dijumpai di kelas.
  1. Sebagian besar peserta didik kurang menyenangi pelajaran IPA yang sifatnya menghitung.
  2. Minat belajar peserta didik pada mata pelajaran IPA rendah
  3. Peserta didik banyak yang mengantuk saat jam pelajaran IPA pada jam terakhir.
  4. Sebagian besar peserta didik belum memahami materi Klasifikasi Makhluk Hidup.
  5. Rerata nilai ulangan harian mata pelajaran IPA materi Klasifikasi makhluk Hidup masih di bawah KKM.
  6. Sebagian besar peserta didik tidak mengerjakan tugas/PR.
  7. Pembelajaran yang dilakukan guru masih didominasi metode ceramah.
  8. Guru belum menguasai strategi pembelajaran yang inovatif.
  9. Guru tidak memanfaatkan media untuk menjelaskan materi IPA.
b.  Menentukan masalah esensial untuk diteliti
Setelah menuliskan beberapa permasalahan yang dijumpai dalam belajar dan pembelajaran di kelas, maka selanjutnya dapat dipilih materi esensial untuk diteliti.
Anda dapat memilih masalah yang paling esensial dengan mempertimbangkan kemudahan pelaksanaan penelitian, efisiensi biaya, kemudahan pencarian kajian pustaka, dan permasalahan tersebut mendesak untuk diselesaikan.
Berdasarkan beberapa contoh permasalahan di atas, maka masalah yang kurang esensial untuk diteliti adalah peserta didik banyak yang mengantuk saat jam pelajaran IPA pada jam terakhir.
Mengapa masalah tersebut kurang esensial untuk diteliti? Karena masalah langsung dapat dipecahkan dengan cara memindah jam pelajaran IPA tidak pada jam terakhir.
Misalnya, pada beberapa masalah tersebut di atas, Anda menentukan masalah esensial, yaitu Rerata nilai ulangan harian mata pelajaran IPA materi Klasifikasi Makhluk Hidup kurang dari KKM. Anda kemudian menduga rendahnya nilai hasil belajar ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan guru masih konvensional (ceramah).
Guru kurang menerapkan strategi pembelajaran yang inovatif. Guru juga belum memanfaatkan media dalam pembelajaran. Permasalahan tersebut selanjutnya dituliskan dalam bentuk kalimat yang komunikatif, yaitu “hasil belajar IPA materi klasifikasi Makhluk Hidup rendah”.

c.  Menentukan alternatif pemecahan masalah
Sesuai pemilihan materi esensial di atas, maka solusi yang dapat dipilih antara lain memanfaatkan media belajar untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran IPA materi Klasifikasi Makluk Hidup.
Karena Anda menduga bahwa rendahnya hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPA materi Klasifikasi Makhluk Hidup karena kurangnya pemanfaatan media dan metode pembelajaran yang masih konvensional, maka Anda dapat menetukan alternatif pemecahan masalah sesuai dugaan tersebut.
Misalnya menerapkan permainan kartu klasifikasi dan perancangan peta konsep materi klasifikasi makhluk hidup.

d.  Merumuskan masalah
Rumusan masalah dari permasalahan yang dipilih di atas adalah sebagai berikut.
  1. Bagaimanakah penerapan permainan kartu klasifikasi dan perancangan peta konsep dalam meningktkan hasil belajar IPA materi klasifikasi makhluk hidup?
  2. Apakah dengan menerapkan permainan kartu klasifikasi dan perancangan peta konsep dalam meningktkan hasil belajar IPA materi klasifikasi makhluk hidup?
e.  Menuliskan judul penelitian tindakan kelas
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dituliskan contoh judul penelitian tindakan kelas sebagai berikut :

"MENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP MELALUI PENERAPAN PERMAINAN KARTU KLASIFIKASI DAN PERANCANGAN PETA KONSEP PADA PESERTA DIDIK KELAS VII SMP NEGERI 1 JIPUT KABUPATEN PANDEGLANG."

Saturday, March 3, 2018

Proposal Penelitian Tindakan Kelas

Bapak dan Ibu guru, tentunya dalam pelaksanaan pembelajaran sering kali kita menemukan permasalahan dalam pembelajaran yang dilakukan. Baik dari motivasi belajar siswa, hasil belajar siswa, serta permasalahan lain yang menghambat pelaksanaan pembelajaran.

Sebagai guru kita dituntut untuk mencari pemecahan permasalahan tersebut agar akhirnya hasil belajar siswa yang kita harapkan dapat tercapai. Kegiatan untuk memcahkan permasalahan-permasalahan dalam kegiatan pembelajaran tersebut, dapat ditempuh melalui sebuah penelitian, yaitu Penelitian Tindakan Kelas.
Agar kegiatan PTK yang dilakukan sesuai dengan rencana, maka pertama-tama tentunya kita harus menyusun Proposal PTK.
Sistematika PTK yang Bapak/Ibu buat dapat mengikuti sistematika, sbb :

Bagian Depan, memuat:
1. Halaman Judul (Cover )
2. Lembar Pengesahan
3. Daftar Isi

Bagian Inti, memuat:
BAB I PENDAHULUAN
           A. Latar Belakang Penelitian.
           B. Rumusan Masalah
           C. Tujuan Penelitian.
           D. Manfaat Hasil Penelitian
           E. Definisi Operasional

BAB II LANDASAN TEORETIK
           A. Kajian Teoretik (memuat hasil penelitian yang relevan dan kajian pustaka)
           B. Hipotesis Tindakan

BAB III METODE PENELITIAN
           A. Lokasi dan Waktu Penelitian
           B. Setting Penelitian
           C. Desain/Rancangan Tindakan Penelitian
                1. Perencanaan
                2. Implementasi Tindakan
                3. Observasi dan Interpretasi
                4. Analisis dan Refleksi
                5. Siklus Tindakan
           D. Indikator Capaian
           E. Instrumen yang Digunakan
           F. Teknik Pengumpulan Data
           G. Teknik Analisis Data

DAFTAR PUSTAKA